Negeri Orang-orang Suci
DI TANAH ALKALI YANG LUAS
DI tengah Benua Amerika Utara terletak gurun yang gersang dan memuakkan, yang telah lama menjadi hambatan kemajuan peradaban. Dari Sierra Nevada ke Nebraska, dan dari Sungai Yellowstone di utara ke selatan Colorado, terdapat suatu daerah yang terisolasi dan sunyi. Alam tidak selalu ramah di wilayah suram ini. Gunung yang menjulang tinggi dan diselimuti salju, dan lembah suram yang gelap. Ada sungai yang mengalir deras yang menembus batas wilayah; dan terdapat dataran yang luas, yang pada musim dingin berwarna seputih salju, dan berdebu garam alkali pada musim panas. Mereka semua tetap begitu, namun itulah karakteristik umumnya; ketandusan, ketakramahan, dan penderitaan.
Tidak ada penduduk negeri ini yang putus asa. Segelintir juru gadai atau pengelana, sesekali menjajah dalam rangka berburu bahan tambang, namun, si pemberani yang paling tabah lah yang senang melihat pesona yang hilang dari dataran ini, di padang rumput tanpa pepohonan untuk kesekian kalinya. Anjing hutan mengendap-endap di antara semak belukar, hewan semacam elang dengan enggan mengepakan sayapnya melintasi udara, dan hewan semacam beruang dengan berat melangkah melewati jurang yang gelap, dan mengais rezeki di antara bebatuan. Mereka adalah satu-satunya penghuni gurun ini.
Di dunia ini, tidak ada daerah yang sesuram lereng bahagian utara di Sierra Blanco. Sejauh mata memandang hanya terdapat tanah datar yang luas, semua dilapisi dengan debu alkali, dan dipisah oleh semak pendek chaparral. Hampir di disepanjang kaki langit terbentang jajaran puncak gunung, puncaknya yang tidak datar dihiasi bintik-bintik salju. Di negara sebesar ini tidak ada tanda-tanda kehidupan, maupun yang menyangkut hidup. Tak ada burung di langit biru, tak ada gerakan di atas tanah yang kusam, hanya ada warna abu-abu yang menyelimuti tanah, keheningan absolut. Mendengar suara adalah hal yang jarang terjadi, tidak ada bayangan suara di belantara yang luas ini; tidak ada apa-apa kecuali keheningan.
Telah dikatakan tadi bahwa tidak ada apa-apa yang menyangkut kehidupan di atas dataran yang luas ini. Benar sekali, ketika melihat Sierra Blanco, hanya terlihat sebuah lintasan jalan di atas padang gurun, dihembus angin dan hilang di kejauhan. Jalanan ini di tapaki oleh berkas roda dan jejak kaki banyak pengelana. Di sana-sini bertebaran objek putih yang berkilauan di bawah sinar matahari, dan mengurangi tumpukan debu alakali. Dekati, dan periksa lah! Objek putih yang bertebaran itu adalah tulang-belulang: sebagian berukuran besar dan kasar, serta yang lainnya lebih kecil dan halus. Sebahagian tulang-tulang tersebut berasal dari banteng dan sebahagian lagi dari manusia. Sepanjang 500 mil, rute yang satu ini menggambarkan kengerian, mengingat serakan dari sisa-sisa mereka yang telah gugur.
Hari itu, tanggal 4 Mei 1847, perjalanan yang suram. Penampilannya sudah sedemikian, sehingga dia terasa seperti seorang genius atau kesetanan. Orang yang melihatnya mungkin akan kesulitan untuk menebak usianya, apakah empat puluh tahun atau enam puluh tahun. Wajahnya yang kurus, kurang tidur, dan kulitnya seperti perkamen cokelat menutupi tulangnya yang panjang, rambut coklat dan janggutnya dihiasi dengan bintik-bintik debu putih; kedua matanya cekung di bagian atas wajahnya, dan terlihat terbakar dengan kilapan yang tidak wajar, sedangkan tangannya yang menggenggam senapan jauh lebih gemuk daripada tulangnya. Selagi dia berdiri, dia menyandarkan senjatanya untuk berjaga-jaga, namun tingginya masih menggambarkan dukungan kuat dari kerangka tulangnya serta menggambarkan sosok yang kuat dan penuh semangat. Wajahnya yang cekung dan pakaiannya yang tergantung longgar di seluruh tubuhnya yang kisut, menggambarkan penampilannya yang uzur dan pikun. Orang ini sekarat akibat kelaparan dan kehausan.
Dia sudah susah payah turun ke jurang, dan pada ketinggian ini harapannya menjadi sia-sia, karena tidak melihat tanda-tanda air. Dan sekarang, dataran asin yang besar terhampar di depan matanya, serta jauh dari pegunungan yang ganas, tanpa tanaman atau pohon yang dapat menunjukkan keberadaan air. Di sepanjang dataran yang luas ini tidak ada seberkas harapan. Dia memandang liar ke arah utara, timur, dan barat, pandangannya terus mencari, dan kemudian dia menyadari bahwa pengembaraannya telah berakhir, dan di sana, di batu terjal yang tandus, ia akan mati. "Mengapa tidak di sini saja, sudah seperti di tempat tidur yang empuk kog, sudah dua puluh tahun?" gerutu nya, selagi ia duduk di batu besar.
Sebelum duduk, terlebih dahulu dia merebakan senapannya yang tak berguna itu, dan juga bundelan besar yang terikat di bahu kanannya, selendang abu-abu, yang dibawanya kemana-mana. Jadi terasa agak terlalu berat baginya, untuk mengurangi beban itu, diturunkan nya lah dengan sedikit kasar. Segera terdengar suara patah dari bundelan abu-abu nya, dan dari sana keluar tonjolan kecil, terlihat wajahnya yang ketakutan, dengan mata coklat yang terang, dan dua bintik lesung pipi yang kecil.
"Kau menyakiti ku!" Terdengar suara seorang anak, mencela.
"Benarkah? Tapi…" Jawab orang itu menyesal; "Aku nggak akan melakukannya lagi." Selagi ia bicara, ia membuka selendang abu-abu nya, dan mengeluarkan seorang anak perempuan yang cantik berumur sekitar lima tahun, mengenakan sepatu dan rok pink yang cantik serta celemek kecil, semuanya seperti pemberian dari ibunya. Anak ini pucat dan lemah, tetapi kesehatan lengan dan kakinya menunjukkan bahwa ia tidak terlalu menderita daripada temannya. "Bagaimana sekarang?" jawab pria itu dengan penuh hasrat, selagai anak itu menggosok gulungan tousy emas yang meliputi bagian belakang kepalanya.
"Cium ini dan sembuhkan," kata gadis itu, dengan gaya yang mantap, menunjukkan bagian lukanya kepada pria tua itu. "Itulah yang sering dilakukan ibu. di mana ibu?"
"Ibu sudah pergi. Ku rasa kau akan segera melihatnya."
"Pergi, hah!" Kata gadis kecil. "Lucu ya…, dia nggak bilang Selamat Tinggal; dia 'selalu bilang itu jika mau pergi' ke rumah bibi untuk minum teh, dan sekarang dia sudah pergi selama tiga hari. Di sini kering sekali, ya kan? tak ada air, tak ada makanan?"
"Bukan, bukan begitu, Sayang. Kau hanya perlu bersabar sebentar, dan kau akan baik-baik saja. Letakkan kepalamu di sini, seperti ini, dan kau akan merasa lebih baik. Tidak mudah untuk berbicara bila bibirmu seperti ini, tapi ku rasa sebaiknya aku memberitahu mu bagaimana sebuah kartu bisa berdusta. Apa itu... kau dapat dari mana...?"
"Benda yang cantik! benda yang bagus!" teriak gadis itu dengan yang antusias, sambil memegang dua pecahan mika yang bercahaya. "Nanti, kalau kita kembali, aku akan memberikannya ke saudaraku Bob."
"Nanti kau akan melihat hal yang lebih indah daripada ini," kata pria itu dengan percaya diri. "Kau hanya perlu menunggu sedikit. Aku akan memberitahu mu, tunggu dulu, kau ingat ketika kita meninggalkan sungai?"
"Oh, ya."
"Ok, baiklah, kita akan segera jumpa sungai lainnya, lihat saja nanti. Tetapi ada beberapa hal yang aneh; kompas, peta, atau sejenisnya, tetap juga tidak ketemu. Air terus-menerus mengalir dan habis. Kecuali sedikit tetesan untuk anak seperti mu, dan... dan..."
"Dan kau tidak bisa menbersihkan dirimu sendiri," gadis itu menginterupsi pria itu, sambil menatap wajahnya yang sangat kotor.
"Ya, bahkan minum pun tidak. Dan Mr. Bender, dia sudah lama pergi, dan kemudian Pete si Indian, kemudian Mrs. McGregor, kemudian Johnny Hones, dan Sayang... kemudian, Ibumu. "
"Kemudian ibu juga meninggal," tangis gadis kecil itu, menjatuhkan wajahnya ke alas dadanya dan kemudian menangis tersedu-sedu.
"Ya, mereka semua pergi kecuali kau dan aku. Kemudian, ku pikir kita punya kesempatan untuk menemukan air di arah ini, jadi ku gendong kau di atas bahuku dan kita berkelana bersama-sama. Sepertinnya keadaan tidak berjalan mulus. Sangat sedikit sekali kesempatan untuk kita! "
"Maksudmu kita akan mati juga?" tanya anak itu, sambil tersedu-sedu, dan menaikkan wajahnya yang bersimbah air mata.
"Aku rasa hanya soal waktu."
"Mengapa tidak kau katakan sebelumnya?" Kata gadis itu, sambil tertawa dengan riang. "Kau menakutiku. Mengapa, tentu saja, sekarang selagi kita menuju kematian kita akan bertemu dengan ibu."
"Ya, benar, Sayang."
"Dan kau juga. Aku akan menceritakan kepada ibumu betapa mengagumkan dirimu sekarang. Aku pastikan ibumu akan menemui kita di pintu surga dengan sekendi besar air, dan kue soba yang banyak nan hangat dan roti panggang di kedua sisinya, seperti kesukaanku dan Bob. Berapa lama lagi?, siapa yang lebih dulu...?"
"Entahlah... Mungkin tidak lama lagi." Mata pria itu terus menatap ke atas cakrawala utara. Di kolong langit biru di sana muncul tiga bintik kecil yang terus membesar setiap saat, begitu cepatnya mereka mendekat. Begitu cepatnya mereka berubah bentuk menjadi tiga burung besar berwarna cokelat, yang terbang melingkar di atas kepala mereka, dan kemudian bertengger di batu yang lebih tinggi dari mereka. Mereka adalah buzzard (sejenis burung elang), burung hering dari barat, yang datang sebagai pertanda kematian.
"Ayam jantan dan ayam betina," teriak gadis kecil itu dengan riang, menunjuk burung-burung itu, dan menepuk tangannya untuk membuat burung-burungnya bergerak. "Katakanlah, apakah Tuhan yang telah membuat negara ini?"
"Tentu saja," kata temannya, agak terkejut atas pertanyan yang tiba-tiba itu.
"Dia menjadikan negara di Illinois, dan menjadikan Missouri," lanjut gadis kecil itu. "Ku kira ada orang lain yang membuat negara di daerah ini. Ini bukanlah akhir. Mereka lupa air dan pepohonan."
"Bagaimana kalau kita berdoa?" Tanya pria itu malu-malu.
"Ini belum malam," jawab gadis itu.
"Tidak masalah. Ini tidak seperti biasanya, Tuhan tidak akan mempermasalahkannya, percayalah. Kau pernah bilang pada mereka bahwa kau biasanya berdoa tiap malam sewaktu kita di kereta ketika berada di dataran."
"Aku lupa do'a nya," jawab pria itu. "Aku tidak pernah berdo'a sejak masih kecil. Ku rasa belum terlambat. Berdo'a lah, aku akan mengikutimu."
"Kau harus berlutut, dan aku juga," kata gadis itu, sambil merebahkan selendangnya.
"Kemudian kau harus meletakkan tanganmu ke atas seperti ini. Ini membuatmu merasakan kebaikan."
Pemandangan yang aneh, tidak ada apa-apa disitu, hanya burung buzzards yang bisa dilihat. Kedua pengelana itu berlutut berdampingan di atas selendang, sedikit ocehan anak kecil dan tigkah serampangannya, petualangan yang berat. Muka chubby si gadis kecil dan muka lesu si pria, roman wajah mereka yang kaku mengarah ke arah langit cerah meminta dengan sangat tulus kepada Tuhan, sementara terdengar dua suara, yang satunya lemah dan jelas serta yang lainnya dalam dan kasar, mereka bersatu untuk memohon rahmat dan ampunan. Doa selesai, kemudian mereka kembali duduk di bawah bayangan batu besar sampai si gadis kecil itu tertidur, sang pria mendekapn gadis kecil itu ke dadanya yang ledar sebagai perlindungan. Sesekali pria itu mengawasi si gadis kecil yang sedang tertidur, namun dia terlalu letih. Sudah tiga hari tiga malam dia belum istirahat maupun tidur. Perlahan kelopak matanya jatuh di sela-sela kelelahan, dan kepalanya terbenam rendah dan lebih rendah lagi ke atas dadanya, sampai janggutnya yang putih bercampur dengan pirangnya rambut ikal si gadis kecil, dan keduanya sama-sama tertidur, di dalam tidur yang tanpa mimpi.
Akankah mereka bangun setelah setengah jam berikutnya? Pemandangan yang aneh mulai terlihat. Di kejauhan di atas tanah alakali terlihat sedikit debu yang terangkat, pada awalnya biasa saja dan sulit membedakannya dengan kabut yang terlihat dari kejauhan, tapi berangsur-angsur tumbuh tinggi dan lebih luas lagi sampai membentuk warna pekat, mungkin itu hanya awan. Tapi awan ini terus-menerus bertambah besar sampai terlihat jelas, hingga bisa disimpulkan bahwa itu adalah sekumpulan makhluk yang sedang bergerak. Di daerah yang lebih subur, seorang pengamat pasti akan menyimpulkan bahwa itu adalah sekawanan bison yang sedang digembalakan. Namun, di belantara gersang ini, hal itu jelas tidak mungkin terjadi. Debu yang aneh, mereka mendekat dan memekat serta menuju ke arah mereka yang sedang karam dan tertidur, terlihat seperti gerbong kereta yang miring, dan penunggang kuda bersenjata secara samar-samar mulai muncul, keanehan itu ternyata adalah sebuah karavan yang sedang menuju ke barat. Tapi, karavan apa itu? Bagian kepalanya mulai sejajar dengan dasar pegunungan, dan bagian belakangnya masih belum terlihat, dan masih di antara kaki langit. Tepat di seberang dataran yang besar, terlihat sebuah barisan, gerbong kereta, penunggang kuda, dan pejalan kaki. Tak terhitung jumlah wanita yang berjalan sempoyongan membawa beban di pundaknya, dan anak-anak berjalan tertatah di sebelah gerbong atau mengintip keluar dari bawah selimut putih. Hal ini membuktikan bahwa mereka bukan imigran biasa, tetapi segelintir pengembara yang terpaksa mencari pemukiman baru. Kumpulan itu terus berjalan menembus udara bebas, gemericing kebingungan dan bergemuruh yang berasal dari gerombolan manusia yang ramai ini bercampur dengan suara deritan roda dan ringisan kuda. Sudah sekeras itu suara yang ditimbulkan, masih belum cukup untuk membangunkan dua pengelana yang keletihan tadi.
Pada bagian depan barisan, ada satu orang atau lebih yang memegang kendali, yaitu orang yang bermuka besi, berpakaian tenun sombre, dan dilengkapi dengan senjata. Agar bisa menggapai bagian bawah jurang tebing mereka berhenti, dan mengadakan sidang singkat tertutup.
"Sumurnya ada di sebelah kanan, saudara ku," kata seorang yang berbibir tebal dengan wajah yang dicukur licin serta berambut uban.
"Ke arah kanan Sierra Blanco - jadi kita harus melewati Rio Grande," kata yang lainnya. "Janganlah takut akan air," sambut yang ketiga. "Dia yang memiliki hikmah dari bebatuan ini, tidak akan meninggalkan orang-orang pilihan-Nya sendiri."
"Amin! Amin!" respon semua orang yang berada di sana.
Ketika melanjutkan perjalanannya, ketika itu pula salah seorang anak muda bermata liar berseru dengan karas dan mengarahkan jarinya menunjuk ke atas batu karang yang ada di atas mereka. Dari puncaknya terlihat kibaran berwarna pink yang terlihat jelas dibalik warna kelabu bebatuan. Dari sisi mereka, seseorang mengekang kudanya dan mengangkat senjatanya, sementara penunggang kuda yang lebih muda bergabung untuk memperketat brisan. Kata-kata "Redskins/indian" terdengar dari bibir semua orang.
"Tidak mungkin ada orang di sini," kata yang lebih tua, yang kelihatannya memegang komando. "Kita telah melewati para juru gadai itu, dan tak ada suku lain yang melintasi daerah ini hingga kita menyeberangi pegunungan besar ini."
"Haruskah aku ke sana melihatnya, Saudara Stangerson?" tanya salah seorang dari kumpulan itu.
"Dan aku," "Dan aku," seru belasan suara lainnya.
"Tinggalkan saja kuda-kuda kalian di sini kami akan menunggu di sini," jawab yang lebih tua. Segera mereka turun dari kuda, lalu mengikatnya, kemudian naik ke atas bukit yang terjal dan terus melangkah menuju ke objek yang membuat mereka penasaran. Dengan kecekatan mereka maju tanpa menimbulkan suara berisik, layaknya pasukan terlatih. Mereka yang mengawasi dari bawah dapat melihat pasukannya pindah dari batu ke batu yang lain sampai mereka berdiri menghadap ke kaki langit. Orang yang lebih muda lah yang terlebih dahulu memberikan alarm kepada yang lainnya. Tiba-tiba pengikutnya melihat dia mengangkat kedua tangan, seperti keheranan, dan mereka bergabung dengannya dengan cara yang sama.
Di plateau kecil yang bermahkotakan bukit tandus, berdiri sebongkah batu raksasa, dan di balik batu itu berbaringlah seorang pria tinggi, berjanggut panjang, dan bermuka sangar namun berbadan sangat kurus. Wajahnya yang tenang dan nafasnya yang biasa-biasa saja menunjukkan bahwa ia sedang tidur pulas. Di sampingnya terbaring seorang anak yang lengan putihnya merangkul lehernya yang coklat berurat, dan rambut emasnya terkulai di atas dada pria yang berjubah beludru itu. Bibir merah gadis itu terbuka dan meperlihatkan barisan giginya yang putih, dan senyumnya memperlihatkan paras kekanak-kanaknya. Kaki putihnya yang mungil diselimuti kaus kaki putih sampai ke dengkul dan dihiasi dengan sepatu bertumit mengkilap, menimbulkan kejanggalan yang kontras jika dibandingkan dengan temannya. Di atas batu di dekat pasangan aneh ini berdiri tiga ekor burung buzzards, yang menurut pemuda-pemuda tadi, burung itu berkoak garau sambil mengepakkan sayapnya sebagai ungkapan kekesalan, lalu pergi.
Teriakan burung tadi membangunkan dua orang yang sedang tidur ini, yang lalu memandangi para pemuda dengan perasaan bingung. Sang pria berdiri sempoyongan dan melihat ke dataran yang menghilang ketika mereka tidur tadi, yang sekarang banyak dilalui oleh banyak orang dan binatang buas. Ekspresi wajahnya memperlihatkan ekspresi ketidakpercayaan atas apa yang dilihatnya, kemudian melambai-lambaikan tangannya yang kurus ke depan. "Apakah ini yang namanya igauan, mungkin saja," ia berkomat-kamit. Anak itu berdiri di sampingnya sambil memegang bagian bawah jasnya, dan tidak berkata apa-apa, hanya memandang ke sekitar dengan penuh tanya.
Para pemuda tadi, dengan cepat mampu meyakinkan mereka bahwa yang mereka lihat bukanlah khayalan. Seorang dari mereka bahkan mengangkat si gadis kecil ke bahunya, sementara dua lainnya membantu si pria kurus itu, dan membimbing mereka ke gerbong kereta."Namaku John Ferrier," Jelas sang petualang; " aku dan anak ini adalah satu-satunya yang hidup dari dua puluh satu orang. Sisanya sudah tewas karena kehausan dan kelaparan jauh di selatan."
"Apa ia anak anda?" tanya seseorang.
"Mungkin sekarang iya," teriak yang lain, secara tiba-tiba. "Dia milikku sekarang 'karena aku yang menyelamatkannya. Tak seorangpun yang akan mengambilnya dari ku. Mulai hari ini namanya adalah Lucy Ferrier. ngomong-ngomon, Siapa kalian? "Lanjut nya, sambil melirik ke arah orang-orang yang telah menyelamatkannya dari sengatan matahari, dengan rasa ingin tahu; "sepertinya jumlah kalian banyak sekali."
"Sepuluh ribu, kurang lebih begitu" kata seorang dari pemuda-pemuda itu "kami adalah anak-anak Tuhan yang teraniaya yang dipilih oleh Malaikat Moroni."
"Aku tidak pernah mendengar cerita tentang dia," kata si pengembara. "Tampaknya Dia telah memilih kalian semua."
"Jangan suka mengejek di tanah sakral ini," kata yang lain, dengan galak. "Kami adalah orang-orang yang percaya pada takdir, yang telah tertulis di piringan emas Mesir, yang telah disampaikan kepada Joseph Smith yang suci di Palmyra. Kami datang dari Nauvoo, di negara bagian Illinois, di sanalah kami mendirikan kuil. Kami datang untuk mencari perlindungan dari kekejaman manusia-manusia tak ber-Tuhan, walaupun itu di tengah-tengah gurun seperti ini."
Nama Nauvoo ternyata membangkitkan kenangan John Ferrier. "Oh... begitu," katanya, "Jadi kalian pengikut Mormon."
"Ya, kami adalah orang-orang Mormon," mereka mejawab dengan serentak.
"Dan, kalian mau pergi ke mana?"
"Entahlah. Biar Tuhan yang membibing kami di bawah pimpinan Nabi kami. Anda harus menemui nya. Ia akan memutuskan apa yang harus lakukan untuk Anda. "
Setelah mereka tiba di bawah bukit, mereka dikelilingi oleh sekelompok peziarah bermuka pucat, wanita-wanita berpenampilan lembut namun kuat, tawa anak-anak, dan tatapan kecemasan. Banyak teriakan keheranan dan simpati timbul dari mereka, ketika melihat para pemuda memapa dua orang asing itu. Iringan mereka tidak berhenti, bahkan dikawal oleh sebagian besar kaum Mormon, sampai mereka tiba di sebuah kereta berukuran besar, berpengawal, dan berpenampilan menyolok. Enam ekor kuda diikatkan di kereta itu, sementara kereta yang lain hanya dua ekor kuda saja, atau paling banyak empat ekor kuda. Disamping kusir, berdiri seorang laki-laki yang berumur kurang lebih tiga puluh tahun, tetapi kepalanya yang besar dan ekspresinya yang teguh, menandakan bahwa dia adalah seorang pemimpin. Ketika itu Ia sedang membaca gulungan berwarna cokelat. Namun ketika segerombolan keramaian mendekat, dia meletakkan gulungan itu di sampingnya, dan mendengarkan laporan peristiwa yang telah terjadi dengan penuh perhatian. Kemudian ia berpaling ke kedua orang yang karam tadi.
"Jika kalian bersama kami," katanya, dengan suara yang serius, "Kalian harus beriman seperti yang kami imani. Kami tidak ingin ada serigala di antara kami. Lebih baik tulang kalian memutih di gurun ini dari pada harus menjadi noda busuk yang sewaktu-waktu akan membusukkan hati kami. Bersediakah kalian ikut dengan kami dengan persyaratan ini? "
"Aku rasa aku bersedia memenuhi persyaratan ini," kata Ferrier. Atas pernyataan itu, para tetua, tidak bisa menahan senyumnya. Namun sang pemimpin tetap saja menahan sikap tegasnya, ekspresi yang mengesankan.
"Bawalah dia, Saudara Stangerson," kata sang pemimpin, "beri dia makanan dan minuman, dan juga anak ini. Ini menjadi tugasmu untuk mengajar mereka Keyakinan Suci kita. Perjalanan kita sudah tertunda cukup lama. Mari kita lanjutkan perjalanan kita! Maju, menuju Zion!"
"Maju, menuju Zion!" seru umat-umat Mormon, dan kata-kata itu menggema di sepanjang karavan, dari mulut ke mulut, dan memudar sejauh mereka melangkah. Bersama suara cambukan, terdengar bunyi roda gerobak besar bergantian, dan segera seluruh kafilah itu menempuh perjalanan yang panjang untuk ke sekian kalinya. Sang pemuda yang ditugasi merawat kedua orang terlantar itu membawa mereka ke gerobaknya, dimana makanan sedang menanti mereka.
"Anda akan tetap di sini," katanya. "Dalam beberapa hari kalian akan kembali sehat. Sementara itu, ingatlah, bahwa sekarang dan selamanya, kalian adalah bagian dari agama kami. Brigham Young sendiri yang telah menyampaikannya, dan dia telah berbicara dengan suara Joseph Smith, yang merupakan suara Tuhan. "

No comments:
Post a Comment